Minggu, 21 Oktober 2007

Kegagalan?!

Setelah merapatkan kepala ke pojok dinding rumah itu ia kembali menangis. Tangisan jiwa yang tak mampu ia kendalikan. Jiwa yang menjadi ringkih karena kecewa. Ia anggap dirinya telah gagal tak mungkin bangkit lagi…… Dan dinding itu menjadi saksi bisu bagi air mata kepiluan yang menetesi bumi tempat ia menunduk. Air mata yang sepekat darah. Darah yang mengalir dalam nadi keputus-asaan. Padahal di atas atap rumahnya purnama tengah bersinar. itu mungkin apa yang akan kita saksikan beberapa saat sebelum si “yang berjiwa kerdil”. duduk setengah tertidur di sebuah panti perawatan. Usianya mungkin masih muda, namun jiwanya telah terlalu renta karena ia tak pintar merawatnya. Ia tak paham, bahwa kegagalan, dalam berbagai aspek kehidupan, senantiasa mewarnai cerita awal sebuah kesuksesan, ialah yang menguatkan dorongan untuk sukses dan juga sebagai sebab seorang menemukan keunggulan yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali. Namun si “yang berjiwa kerdil” ini tak tahu itu. Ia bodoh betul. Beda halnya dengan si “yang berjiwa besar”. Ia begitu memahami bagaimana mensiasati berbagai perasaan yang ada. Ia tahu bahwa hidup ini penuh dengan aneka rupa warna rasa: Di sana ada duka di depan suka, ada cinta di depan benci, ada harapan di depan cemas, ada gembira di depan sedih. Dan si “yang berjiwa besar” ini piawai nian meracik warna-warna itu menjadi lukisan indah kehidupan. Amboi, ia pintar betul. Ck ck ck…. Si “yang berjiwa besar” ini ketika gagal tak pernah tertarik untuk mengutuk kegagalan itu, bahkan ia selalu berhasil menganggapnya sebagai cobaan hidup yang menghantarkannya menuju strata yang lebih tinggi dalam universitas kehidupan ini. Karena ternyata dalam hidup ini terlalu banyak yang lebih pelik daripada hanya sekedar skripsi, tesis, desertasi, lamaran kerja, lamaran seorang pemuda kepada pujaan hati di hadapan calon mertua, atau apa pun lainnya. Anda tahu apa yang membuatnya begitu kuat? Itu karena ia punya optimisme, sebuah gelora jiwa yang lahir dari sebuah harapan yang matang. Yang muncul dari latihan panjang yang begitu melelahkan. Kini jiwanya pun telah sekokoh karang. Tenang walau gelombang badai menerjang. Ia paham kata pujangga: …kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan How to… Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana … Saudara-saudara Adalah sangat mengerikan disaat seorang melalui hidup tanpa gairah, tanpa semangat, mencekam di bawah bayang-bayang keputus-asaan. Kondisi seperti ini biasanya terjadi ketika seorang mengalami kegagalan yang berulang-ulang ditengah ketidakberdayaan. Bagaikan memanjat sebuah tebing yang tinggi namun jatuh dan jatuh lagi, kemudian berusaha lagi, tapi gagal dan gagal lagi. Ancaman yang paling berbahaya dari kondisi di atas adalah pupusnya harapan, lenyapnya optimisme dan habisnya kegembiraan jiwa yang akan menghantarkan seorang menuju kehilangan kepercayaan kepada waktu dan dirinya sendiri. Tapi lihatlah si “yang berjiwa besar” ini. Ia memilih untuk bersikap lebih santai menghadapi itu semua. Ia biasa mengatakan. “Tinggalkan urusan itu. Lakukan sesuatu yang lain.” Namun, ia sebenarnya tidak meninggalkan urusan itu. Ia mungkin terlihat sedang melakukan sesuatu yang lain, tetapi sebenarnya ia hanya mau memikirkan urusan itu dari kejauhan. Ia menjaga jarak jiwanya dari urusan itu untuk tetap mempertahankan wilayah kegembiraan jiwa dari serbuan keputusasaan. Ia memang memilih untuk santai, tetapi lihatlah!! Dari sana ia menemukan cara pandang baru, atau inspirasi baru terhadap urusan di mana ia telah gagal menggapainya tempo hari itu. Hari demi hari terus berlalu…… Ia semakin bijak setelah menghayati kembali doa yang biasa ia ucapkan dalam hari-hari berat itu. Dari sana ia mengerti bahwa ketika gagal, sesungguhnya sesuatu yang lebih baik sedang menantinya di masa depan. Doa itu berbunyi:istikharah “Ya Allah, aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon darimu keutamaan-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sementara aku tidaklah kuasa. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui sementara aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha mengetahui yang hal-hal yang ghaib.Ya Allah.. Bila Engkau mengetahui bahwa perkara ini lebih baik bagi agamaku, hidupku dan akhir urusanku kelak [dalam jangka pendek maupun panjang], maka takdirkanlah hal itu bagiku dan mudahkanlah aku untuk mendapatkannya, kemudian berkatilah aku dalam hal tersebut. Dan apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini tidak baik bagi agamaku, hidupku atau akhir urusanku kelak [dalam jangka pendek maupun panjang], maka jauhkanlah perkara tersebut dariku dan hindarkanlah diriku darinya, lalu takdirkanlah yang baik buat diriku bagaimana adanya, kemudian buatlah aku ini ridho kepadanya.*Maka bertambah satu lagi alasan baginya untuk tidak pernah berputus asa.SEMANGAT!!!*Doa Sholat Istikharah (Memohon petunjuk dalam berbagai urusan hidup yang memang penuh dengan pilihan)Berkata seorang sahabat Nabi yang mulia Jabir -radhiallahu ‘anhuma- bahwa Rasulullah telah mengajarkan Istikharah dalam segala urusan hidup ini. Rasulullah bersabda : Jika seorang di antara kalian merasakan gundah/bingung atau ragu terhadap suatu perkara maka hendaklah ia sholat sunnah dua raka’at kemudian setelahnya bacalah doa (seperti di atas) Dan sesungguhnya seorang hamba tidak akan kecewa dengan apa yang dipilihkan oleh Penciptanya setelah ia juga bermusyawarah dengan orang-orang beriman kemudian ia mantap dengan keputusannya.(Hadits Shohih diriwayatkan oleh imam al-Bukhari)
Sumber: Doa ke 26 dari buku kecil Hisnul Muslim (Doa dan Wirid) Karya Syaikh Sa’id bin Wahf al-Qahtahi.

Kamis, 18 Oktober 2007

Semoga Kita Semua Kembali ’Fitri’

Tak terasa beberapa hari lagi bulan suci Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Apakah yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan ini. Apakah keagungan Ramadhan itu, kita biarkan berlalu begitu saja? Tanpa melakukan peningkatan kualitas ibadah kita, ataukah sama dengan apa yang kita perbuat selama 11 bulan sebelumnya?
Mudah-mudahan selepas bulan suci Ramadhan ini kita bisa lebih baik dari dan sesudah bulan Ramadhan. Serta semangat ’Ramadhan’ terbawa terus setelah kita kembali kepada fitrah kita, tanggal 13 Oktober 2007 nanti.
Selain itu, pribadi kita menjadi pribadi yang sangat luar biasa, karena hasil didikan di bulan seribu bulan ini. Tak ada istilah terlambat, bila kita mau jadi yang spesial di sisi Allah, Sahabat.
Sahabat, jelang Lebaran nanti, yang tinggal hitungan hari. Itupun hanya jari-jari disebelah tangan. Jadi bisa dibayangkan kan, betapa cepatnya hari-hari, waktu, detik demi detik di bulan Ramadhan berlalu melewati kita, saya khususnya.
Saya coba menuangkannya melalui tulisan sangat sederhana, inilah sepenggal kisah saya selama Ramadhan ini. Dan pelajaran apakah yang saya dapat di Ramadhan kali ini??
Banyak sekali, bila di runut satu-satu. Diawali dengan mendapat pekerjaan baru setelah sekian bulan vakum. Berkah Ramadhankah?? Bisa dibilang begitu, jika kita menilai berkah hanya sebatas hal-hal yang menyenangkan saja. Mengapa demikian?? Karena ketika saya masuki lingkungan kerja itu, ada masa dimana saya seperti mendapat hukuman. Situasinya, orang-orangnya, membuat saya terhenyak dan sempat menyesali keputusan saya menerima pekerjaan itu. Ramadhan, dengan sejuta pesonanya, dengan sejuta ‘hadiah’ yang dijanjikannya membuat saya bisa menahan diri untuk tidak terus menerus menyesali yang sudah terjadi.
Jujur saya akui, awalnya semua prasangka baik itu, saya lakukan hanya karena tidak ingin pahala saya berkurang (pede banget ya, emangnya dapet?!?!). But then again.. semakin hari saya semakin mendapati bahwa ternyata dengan memberikan banyak kepada orang sekitar (dalam kasus saya dikantor adalah dengan sikap dan pengertian. Kan biasanya yang baru itu harus beradaptasi), saya malah mendapat banyak hal. Seperti kata motivator favorit saya, kuncinya bukan Take and Give tapi Give and Receive.
Dan bukankah itu salah satu kunci dari Ramadhan?!? Berusaha mengerti orang lain. Terutama yang kurang daripada kita. Dan kurang itu kan tidak selalu berkonotasi materi. Kurang itu kan bisa kurang ilmu, kurang sabar, kurang baik, dll. Who knows dengan mencontohkan itu kepada mereka, kita bisa membawa mereka jadi lebih baik. And who knows, siapa tau malah kita yang akan banyak mendapat pelajaran dari orang-orang yang kurang itu.
Dengan senyum terkembang, saya bisa sedikit bernafas lega, karena tahun ini saya bisa menikmati Lebaran seutuhnya. Karena tahun ini, untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, saya bisa menahan diri dari hal-hal buruk. Dan semoga Allah yang memiliki Kemahaan Mutlak, berkenan mempertemukan saya dengan Ramadhan tahun depan. Dan semoga Allah SWT berkenan memberikan saya hak untuk menikmati Hari Raya secara utuh, dan semoga kita semua kembali ’fitri’. Amiin...

Komunikasi Lewat Blog, Efektifkah? *


Wikipedia menyebutkan bahwa blog merupakan singkatan dari web log, yang merupakan sebuah aplikasi web yang memuat secara periodik tulisan-tulisan (posting) pada sebuah webpage umum. Posting tersebut sering kali dimuat dalam urut-an posting secara terbalik, meskipun tidak selamanya demikian. Situs web semacam itu biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.
Pada tahun 2005 lalu, sebuah penerbit kamus terkenal Merriam-Webster menyebutkan, blog telah menjadi kata yang sangat populer dan mulai berpengaruh pada media mainstream. Dan hal itu telah mendorong memasukkan kata blog pada edisi tahun tersebut. Padahal, kamus Oxford University sudah memasukkan kata blog satu tahun lebih dulu. Blog menjadi semakin populer setelah PyraLab sebagai pemilik dari Blogger.com diakuisisi oleh Google sejak tahun 2002, seakan menjelma menjadi media tersendiri dan menya-ingi media mainstream yang sudah ada. Sejak itu bermunculan aplikasi yang bersifat open-source yang diperuntukkan bagi blog.

Microsoft ketar-ketir
Microsoft yang saat ini lagi ketar-ketir karena “belum puas” ambil bagian dalam bisnis internet, di tahun 2003 sempat memecat pegawainya karena sebuah blog. Adalah Michael Hanscom, yang disinyalir menampilkan foto yang diambil dari kawasan Microsoft dalam blog-nya. Foto yang menampilkan komputer Power Mac G5 sedang diangkut ke dalam kompleks perkantoran Microsoft itu dianggap berpotensi membocorkan rahasia perusahaan.
Sempat pula opini yang diba-ngun sebuah blog membuat Menteri Pariwisata Malaysia Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor kebakaran jenggot pada medio Maret 2007 lalu, gara-garanya seorang blogger wanita asal Indonesia yang seorang wartawati SCTV, Nila Tanzil, menulis “Malaysia Tourism Board, Disappointing” di awal Februari 2007. Kecaman sang datuk menteri pun disampaikan lagi lewat media atas tulisan tersebut dan sempat menuduh bahwa blogger wanita “tukang kibul”.
Yang terbaru adalah berita yang dirilis Google Finance pertengahan bulan Mei 2007 ketika saham Apple anjlok. Dalam berita itu disinggung bahwa anjloknya saham Apple dipicu oleh kemunculan berita bohong dari Engadget.com--sebuah blog gadget yang cukup ternama dan terpercaya--yang menampilkan bocoran informasi bahwa Apple akan menunda dua produk andalan mereka: Apple iPhone dan Mac OS X Leopard. Hanya butuh waktu enam menit setelah kabar itu tersiar, saham Apple pun anjlok. Baru setelah dirilis kembali bahwa berita itu bohong saham Apple berangsur pulih, setidaknya Apple sempat kehilangan kapitalisasi pasar sebesar 4 miliar dolar AS dalam waktu 20 menit. Berita ini pun sempat ditayangkan di media detikinet. Bahkan di Cina saat ini diadakan pendataan para blogger untuk “mengamankan” informasi. Masih banyak lagi cerita bagaimana dahsyatnya sebuah blog sebagai media.

Lebih mendalam
Dari sisi kualitas konten, antara blog dan media mainstream sesungguhnya tak jauh beda. Bahkan di beberapa hal, tulisan dari sebuah blog akan bisa lebih mendalam ketika disajikan, karena memang penulisnya, atau biasa disebut blogger, adalah orang yang cukup mendalami hal yang di-tulisnya. Namun, hal ini tidak berarti bahwa blog akan membunuh media mainstream yang sering diidentikkan de-ngan surat kabar, radio, televisi, atau media internet seperti YahooNews, Newyork Times, Detikcom, atau sejenisnya, tapi akan membuat efektivitas komunikasi media yang sudah ada makin meningkat ketika keduanya dapat bersi-nergi. Kunci kekuatan blog adalah kontennya bersifat long-tail, yaitu ketika sebuah tulisan atau foto yang telah dimuat dapat dilihat kembali dan dibaca kapan saja. Hal ini sebenarnya sama dengan media internet lainnya yang tidak dikategorikan sebagai blog dan juga kehadiran kolom komentar sehingga meningkatkan interaksi sosial. Pembaca bisa berinteraksi dengan penulis, narasumber, maupun sesama pembaca, demikian perspektif Wimar Witoelar ketika mengomentari keterkaitan keberadaan blog dengan media mainstream.
David Sifry, CEO dan pendiri Technorati berkomentar me-ngenai perbedaan blog dan media mainstream, “Banyak pengguna internet yang tidak sadar bahwa ia sedang membaca sebuah blog”. Bahkan dia menyodorkan data, saking menariknya isi blog, dari 100 situs paling populer di dunia pada kuartal empat 2006, 22 di antaranya adalah blog!

Lebih personal dan jujur
Blog yang pada awalnya untuk mencatat sejarah harian atau yang biasa disebut diary semakin berkembang fungsinya sampai dengan media publikasi dalam sebuah kampanye politik, program-program media dan korporasi yang ditulis mulai dari penulis tunggal sampai beberapa penulis. Bahkan dikenal juga istilah professional blogger yaitu orang yang dibayar khusus untuk nge-blog. Ada juga yang menganggap blog sebuah ”emerging market”, seperti yang diungkap Budi Putra yang memilih sebagai ”full time blogger” yaitu orang yang benar-benar telah memi-lih blogging sebagai profesinya. Menurutnya, hal ini paling tidak terkait tiga hal, yakni penerbit, penulis, dan konsultan blog.
Terlepas dari komentar-komentar tersebut, saat ini keran media komunikasi sudah dibuka selebar-lebarnya dan salah satunya adalah blog. Penulis berpendapat sama dengan Budi Putra kalau blog, dianggap sangat personal, dan yang personal dianggap lebih jujur dan tidak punya kepentingan. Ketika media mainstream memuat headline yang dianggap terlalu memaksakan seleranya dan hampir selalu sama. Ketika yang diangkat adalah isu dana nonbujeter, maka hampir semua headline media mainstream dipastikan akan meng-angkat isu sejenis, berbeda dengan blog, yang menawarkan sesuatu yang berbeda yaitu pengalaman yang terkait masalah sehari-hari. Dan hal ini dianggap lebih dekat dengan suara publik secara keseluruhan.
Tersedianya aplikasi internet yang memudahkan user dalam penggunaan blog semakin mendorong pertumbuhan blog dan banyak di antaranya tersedia dengan gratis. Memulai blog sama halnya dengan memulai untuk belajar menulis, dibutuhkan kemampuan untuk merekam kejadian verbal maupun nonverbal menjadi sebuah tulisan ditambah sedikit pengetahuan tentang internet.
Namun, kondisi ”efektivitas media komunikasi dengan blog” memang belum sepenuhnya dapat terwujud ketika konten yang disajikan tidak bermutu dan tidak kaya dengan data. Belum lagi persoalan harga bandwidth, infrastruktur internet yang tidak merata, penetrasi komputer yang masih rendah. Semuanya berakibat pada tumpulnya penetrasi internet di Indonesia sehingga menjadikan blog lebih kepada opini orang per orang yang hanya dinikmati oleh tidak lebih 5 persen penduduk Indonesia, itu pun kalau dikunjungi oleh semua pengguna interet Indonesia. Terkecuali ketika blog dapat bersinergi dengan media mainstream yang sudah ada seperti yang disampaikan oleh Wimar Witoelar.
Indonesia, negara yang populasinya masuk lima besar dunia berpotensi sangat besar untuk menggalang informasi lewat internet dan salah satu-nya adalah blog. Informasi-informasi tersebut suatu saat dapat menjadi sebuah know-ledge yang bisa dirasakan secara luas oleh publik. Semua itu hanya mungkin tercipta jika ada komitmen pemerintah untuk membangun infrastruktur telematika di negara ini tidak ’angin-angin-an’. Semoga.